The Architecture of Love in Review

Kerjaan aku mbaca novel aja? Ya ga juga sih. Tapi daripada mbaca buku rada berat yang tebel tebel sangat itu mending aku mbaca novel di daftar waiting list aku. Novel yang udah terlanjur dibeli tapi ditumpukin aja. Bahkan masih lengkap dengan segel plastiknya.

Sangat disayangkan aku gagal ikut PO. Alarm sudah hidup. Email sudah dibikin tinggal kirim send. Website udah dibuka. Entah kenapa aku lupa. Siang itu aku lupa. Trus bingung kenapa aku sampai lupa. Akhirnya ketika buku ini pertama release di Bandung, aku menuju Toga Mas sekedar biar dapet cetakan pertama aja. Kemudian masuk antrian waiting list.

Ini novel Ika Natasha kesekian yang aku baca. Lupakan tentang twitter poll story dan sejenisnya, untuk novel aku memilih menikmati hasil. Dibandngkan dengan novel Ika Natasha lain, aku masih menjuarakan Antologi Rasa. Raia-River belum menggeser si Harris Risjad.

Gaya percakapan yang khas Ika Natasha banget mbikin ga bosen baca novel ini. Tapi yah, sepertinya aku punya banyak kata umpatan sejak re-read A Very Yuppy Wedding. Well, ga baik untuk yang sedang belajar jadi anak baik-baik sering mengumpat. Jadi sepertinya abis baca novel ini aku akan break dulu dari baca novel Ika Natasha. Cukup tau kalau di luar lingkunganku ada gaya hidup berbeda dengan kosakata yang sangat berbeda.

Berhubung belum pernah ke New York sampai saat ini, jadi tidak bisa mendefinisikan seberapa detail gambaran lokasi yang digunakan di novel ini. Tapi cukup lah untuk membuat gambaran sendiri, apalagi ada sketch-sketch yang turut mengisi novel ini.

Hmh.. sayang sekali Raia sampai akhir cerita ga tau alasan sebenernya Alam pergi. Kita dibuat berspekulasi sendiri dengan sebait percakapan tentang Raia melihat Alam bersama orang yang diduga keras istri dan anaknya. Tapi kan mungkin aja lah ya itu Raia yang mengambil kesimpulan terlalu cepat hanya dari apa yang dia lihat. Just like us. Menyimpulkan dari penglihatan semata tanpa ingin menghabiskan waktu untuk mengecek kebenarannya. Tapi mungkin juga itu naluri seorang perempuan.

I don’t need to know about his past anymore because his present – his presence makes me happy

About Meuthia Handayani

complicated..

Posted on August 9, 2016, in My Colourfull Days. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: