Forever Sunset – A Review

First, sorry kalo ga kenal sama nama pengarangnya -Stanley Meulen, *sambil lihat buku-, pengemar novelnya, atau penggemar film dari adaptasi novelnya.

Humh.. beli novel ini di garage sale Gramedia. Ada beberapa novel yang lebih baik dibeli disaat diskon, mulai dari penerbitnya yang suka kasih diskon gede-gedean di event book fair atau sekedar kemahalan kalau dibeli ga pake diskon, buku-buku import mungkin, dan di point ini termasuk buku yang pengarangnya belum punya track record bagus dalam lemari koleksiku.

Forever Sunset. Kelam banget yak judulnya. Tapi rada catchy gitu dan desain covernya juga unik dak.

IMG_20160221_073312

and here it is…

Kalau dari alur sih udah ketebak. Mereka bakal barengan lagi. Cerita ini diakhiri dengan ketemu, lamaran, nikah, dan menurut teori seharusnya happily ever after. Tapi pengarangnya masih memberikan sedikit sentuhan drama di epilog, sehingga novel ditutup dengan sebulan setelah meninggalnya Zora.

Then, ngerasa aneh ngebaca dialognya. Percakapan keluarga antara Dinda – Ayah – Ibu – Adik terasa terlalu kaku. Dan halow, mungkin gitu kali ya percakapan dalam sebuah keluarga nigrat, dan aku yang bukan ningrat ini tau apa.. :p

Tapi percakapan antara Dinda dan Zora yang notabene bukan keluarga, dan diceritakan lagi pacaran ini juga rada kaku sih ya. Pilihan katanya rada absurd (?) Entah. Yang jelas sulit memunculkan imajinasi mereka sedang bercakap dengan dialog tersebut.

Aneh yang lain adalah ketika Dinda ujug-ujug kemo di Singapura. Yang mbikin keputusan entah dokter umum entah dokter spesialis entah udah konsul atau belum. Come on pals, this novel first published in 2014, yang berarti kemo ga usah jauh-jauh ke Singapura kali, di RSUD juga ada. Apalagi dengan latar belakang novel Jakarta gitu loh. Mau kemo atau radiasi tinggal pilih aja. Pengen bilang yang “do your research, please….”

Si dokter yang aku lupa namanya dan sempat naksir Dinda ini kalau ngerujuk Dinda ke Singapura, udah aja kali, ga usah pake acara ikutan. Sempat-sempatnya juga mengiyakan ikut liburan keluarga Dinda ke Bali. Ga punya pasien lain yak. Oke. Cinta dan semacamnya. Tapi kerja di rumah sakit yang ada embel-embel internasionalnya ga bisa se-carefree itu deh. Oke. Mungkin dia ambil jatah cuti.

Ngebaca novel ini pengen cepet cepet selesai. Sayangnya, bukan karena penasaran ending atau ceritanya yang ‘menghanyutkan’. Tapi yang ayo cepet abisin, baca novel yang lain lagi. Let’s grab another one…

Ada prosnya kok. Gaya deskripsi penulis bagus. Cara menggambarkan personal atau lokasi dapet. Jadi walaupun aku ga dapet bayangan untuk dialognya, latar ceritanya udah dapet. Kalau untuk pentas seni ala anak SMA, layar belakangnya udah jadi lah ya..

Walau untuk dialog lumayan akward (menurut aku aja kali), tapi untuk dialog yang menyampaikan pesan untuk terus melanjutkan hidup, don’t give up, pursue your dream, etc lumayan enak ngebacanya.

OK. that’s all.

I don’t like sunset that last forever by the way…

About Meuthia Handayani

complicated..

Posted on February 22, 2016, in My Library. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. muuutttyyyyyyy…inbox no.pe dong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: