Merelakan

Salah seorang teman mengirimkan sms “sedih ya rasanya kita ngasih sesuatu ke orang tapi ga dihargai”

Aku juga pernah mengalaminya. Ketika kita memberikan atau melakukan suatu hal untuk orang lain, tapi dianggap angin lalu. Remuk redam rasanya.

Respon pertamaku adalah diam, tepatnya terdiam. Hati ini memberontak, melempar segala pertanyaan, protes, dan marah mungkin, tapi semuanya dalam diam. Terlalu kaget untuk mengutarakannya. Selanjutnya masih diam.

Lantas aku harus bagaimana? Tidak mungkin memaksanya untuk berterima kasih atau megapresiasi yang kita lakukan. Karena mungkin dia tidak mengharapkan itu. Mungkin ia tidak membutuhkannya. Mungkin ia memiliki harapan lebih dari apa yang kita berikan. Mungkin. Masih dalam diam.

Akhirnya menarik napas dalam. Sekedar mencoba atau menerima dan akhirnya merelakan. Membuang energi negatif sejauh mungkin dan sekuat tenaga mempositifkan pikiran. Berusaha agar yang sudah diberikan atau dilakukan dengan ikhlas itu tidak berubah statusnya.

Akhirnya sampai pada kesimpulan selalu ada reward atas apa yang kita lakukan. Jika bukan sekarang, maka mungkin nanti. Jika bukan ia, maka mungkin yang lain. Sembari menyemangati diri untuk ikhlas dan berharap itu dicatat sebagai kebaikan😀

About Meuthia Handayani

complicated..

Posted on October 28, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: