Aku dan Anak Sejuta Bintang

Seperti biasa, gramedia itu tempat pelarian yang menarik..

Mengetahui buku baru.. membaca komik gratis.. menamatkan buku gratis..

Bulan lalu ke gramedia, sempat menargetkan untuk membeli novel Anak Sejuta Bintang dan 99 Cahaya Menuju Langit Eropa. Karena apa yah? Alasan pertama, mungkin karena novel itu lebih menarik dibaca dibandingkan jurnal yang bertumpuk di kamar.. haha

Dalam membeli buku, biasanya tidak mencari tau terlebih dahulu, cuma berdasarkan feeling, kalau menurutku bagus, ya ambil, kalau tidak, mari ditinggalkan saja. Tidak ingin tersugesti dengan opini orang lain. Sebut saja begitu. Toh, selama ini tidak pernah menyesali buku yang terlanjur dibeli, kecuali, buku yang dipinjem dan ga dibalikin.

Beberapa hari yang lalu, karena bingung mau ke mana, akhirnya melarikan diri ke Gramedia, selain yah, melihat tas incaran masih ada atau sudah raib *tas yang sedang dipakai saat ini berumur lebih kurang 3 tahun, rekor baru. Namun karena ada semacam stress, setelah membaca beberapa komik, membolak-balik buku-buku baru, membuka-buka buku arsitektur *menyiapkan rancangan rumah🙂, kuputuskan untuk membeli buku baru. Setelah menimbang-nimbang, biarlah buku Anak Sejuta Bintang ini yang kubeli. Ternyata setelah dikalkulasikan, tidak sampai seperempat hari untuk membaca buku ini, yah karena memang dibaca tanpa disambil melakukan kegiatan apa pun. Hanya menunggu hujan reda.

Tokoh di buku ini siapa pun itu, mari kita kesampingkan terlebih dahulu, terutama karena telinga saya tidak akrab dengan nama beliau, ntah kemana saja saya selama ini. Biarlah kita anggap (baca: saya anggap) Ical adalah anak biasa, bukan siapa-siapa, dah berada dalam dunia fiksi *karena saya memang jujur -lagi- tidak mengenal tokoh Ical di dunia nyata.

goodreads.com

Over all, ceritanya tergolong biasa saja, namun packing oleh pengarang dan editornya membuat novel ini enak untuk dibaca. Pilihan kata yang simpel, tapi tetap menggelitik. Tapi, terlalu lugas, pendek kata, ga perlu memakai otak untuk mencerna bahasanya. Ceritanya tidak terlalu istimewa, saya yakin, banyak yang mengalami hal lebih mengesankan dibandingkan peristiwa-peristiwa yang terlukis di novel ini.

Tokoh-tokoh dalam buku ini tergolong unik menurut saya. Teman-teman SD yang beraneka warna. Yang pinternya, badung, sombong, seniman, sampai ke low profile ada. Namun ada juga cerita romantika masa SD, haduh jadi inget anak-anak SD sekarang yang sudah mulai “pacaran”. Menyedihkan.

Namun, apa yang digambarkan dalam novel begitu ideal. Orang tua yang sangat sabar dan tidak pernah marah; guru-guru yang sabar dan memotivasi; anak-anak yang baik dan penurut, kecuali berantemnya Ical dan Odi. Oh iya, tidak mengesampingkan kisah Lembu, yang memang hanya mendapat peran “numpang lewat” di novel ini.

Saya lebih suka memberikan applause pada pengarangnya, Akmal Nasery Basral dan editor, Khrisna Pabichara yang telah menyuguhkan suatu bacaan simpel dan menarik tanpa kehilangan semangat mendidik.

Dari semua bagian buku ini, saya suka bagian ending, terlebih pada kalimat

“Bintang yang paling terang dalam kehidupan Ical adalah papa dan mama. Karena cahaya cinta papa dan mama sehingga Ical bisa menemukan cahaya bintang-bintang lainnya”

======================================================================================================

Maafkan ananda Ibunda, belum bisa memberikan yang terbaik buat ibunda.

Mohon terus do’akan ananda…

About Meuthia Handayani

complicated..

Posted on April 2, 2012, in Shoutbox!!! and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: