Peraturan Ada untuk Dilanggar?

Definisi peraturan dalam KBBI adalah tatanan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yang dibuat untuk mengatur. Dari sini, jelas bahwa jika dilihat dari asal katanya dan tata bahasa, tujuan dibuatnya suatu peraturan adalah untuk membuat sesuatu menjadi teratur, memiliki ritme barangkali.

Sekian bahasan tata bahasa, namun saat ini saya tidak ingin untuk belajar bahasa, jenuh barangkali.

Peraturan atau pun aturan itu, terkadang membosankan. Memuakkan barangkali. Menyusahkan juga, tapi ya harus dijalani juga.

Tidak, bukan berarti aku tidak pernah melanggar peraturan. Entahlah, aku ngerasa peraturan itu bukan yang berhubungan dengan administrasi, tapi lebih kepada peraturan untuk personal aku rasa, dan yang aku ingat. Yang paling sering aku lakuin adalah make sandal jepit ke kampus, sampai junior aku pun negur, “kakak mau ke kampus?” #jleb!

Beberapa minggu terakhir aku mengunjungi sebuah tempat terkait dengan tugas akhir. Masyaallah! Ribetnya ngurus administrasi. Dilempar-lempar, dioper-oper. Udah berasa jadi bola aja lah. Kalau sampai sana tu paling nggak nunggu 1 jam baru tercapai apa yang indin dicari. Kalo buat aku ya terlalu! Tapi ya dilakuin juga, berhubung bukan rumah sendiri..

Sampai akhirnya kemarin ngedenger, “kalau kesana lama, ga usah kesana aja, blab la bla, bla bla bla” #jleb lagi dah. Dan wow! Ngapain juga tu peraturan dibikin kalau gitu. Kalau bawahannya ngebikin jalan tol sendiri. Dan yang terfikir, bagaimana pertanggungjawabannya nanti?

Jangan ditanya, sekarang, aku sudah rajin make sepatu, walau ternyata sungguh panas kaki ini!. Sepatu putih, yah, anggap saja nostalgia masa SMA. Ups, waktu SMA kemarin, seragam kami memang sepatu putih kok, keran kan? Selain memang SMA favorit, sepatu putih merupakan alasan lain kenapa apply ke SMA ini. Sejak konsisten memakai sepatu, ada komenter baru “Loh, kok tumben pakai sepatu?” hahaha

Well, back to the story..

Menurut aku, pembuat peraturan sering melupakan satu aspek, evaluasi. Apakah peraturan yang sudah diputuskan untuk diterapkan tersebut ada evaluasinya. Apakah layak untuk diterapkan, apakah menimbulkan ketidaknyamanan ketika diterapkan, beserta apakah-apakah lainnya. Aku meragukan hal itu.

Ketika ketidaknyamanan datang dari pelaksana peraturan, muncullah berbagai jalan pintas. Money politics mungkin. Well, liat aja orang yang dulunya jadi caleg, kerjanya banyak yang ga bener, menurut aku ya, yang ga bener ini make jalan tol, ehm.. jalan tikus mungkin. Cut sana, cut sini, dan ujungnya, peraturan tinggallah peraturan, diabaikan!

Hasil dari evaluasi tersbut –jika dilakukan- tentunya adalah perbaikan di bagian yang dirasa kurang. Bisa jadi pemotongan jalur yang dirasa tidak perlu, yang hanya manghabisakan tenaga saja. Sehingga diharapkan adanya perubahan yang lebih baik. Lebih simple, memudahkan, tanpa mengurangi esensi peraturan itu sendiri dan kinerja dari instansi yang bersangkutan.

Well, terkadang, karena kita terlalu sering menyepelekan hal yang kecil, hal yang besar pun ujung-ujungnya jadi sepele. Ga sadar kalau yang kita lakukan itu salah, mungkin begitu, saya yang sering memakai sandal jepit pun mungkin pernah melupakan esensi dari sepatu *eh, sekarang ga lagiiiii

Well, mungkin saatnya kita taat azas, ketika tak ada manusia yang melihat, Allah Maha Melihat…

About Meuthia Handayani

complicated..

Posted on February 28, 2012, in Shoutbox!!! and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. sesekali melanggar peraturan gak apalah, biar ada tantangannya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: