Cerita Dibalik Buku

A few days ago….

Hari Jum’at pekan lalu..

Antara iya dan tidak, akhirnya Gramedia menjadi tempat pelarianku..

Jum’at itu rencananya mau mengunjungi sebuah tempat, tapi karena udah kesorean, tempat yang akan aku kunjungi tutup. Otomatis! Salah perhitungan waktu, terjebak dalam dunia kampus, dan sedikit enggan untuk beranjak. Karena sudah kepalang tanggung ada di bawah, ya sudahlah.. Mari kita ke Gramed!

Well, aku suka ngebaca, dan mungkin lebih dari menonton. Bebas memainkan imaji. Mereka-reka tokohh, tempat, suasana, menjadikan semuanya lebih hidup. Berharap suatu hari nanti bisa memiliki perpustakaan pribadi, paling tidak seperti koleksi buku di rumahnya Sinichi Kudo.. Wah, itu mah terlalu ya banyaknya.. tapi begitulah.. Kalau bisa lebih, ya Alhamdulillah … ^^

Koleksi buku, ya enggak seberapa, karena emang ya dasarnya pemilih dan… susah uang! Memasuki semester genap tahun 2 sudah mulai mengurangi frekuensi ke toko buku, tahun 3, frekuensi buku baru semkin berkurang, dan ditengah rasa frustasi, kulangkahkan saja lah kaki ini ke toko buku, menemukan kembali kesenangan yang sempat terabaikan..

 

Back to the story..

Oke, sampai ke gramedia, ternyata ada diskon2an, namun bukan buku tipe aku banget.. buku accounting, economy, design, well, langsung saja menuju lantai 3..

Sempet muter-muter, dan bingung mau pilih novel yang mana. Dan akhirnya tertuju pada Detective Conan 15. Haha^^. Ga sih, ada rencana beli buku biografi Steve Jobs, makanya buku pendampingnya ga boleh yang mahal-mahal. Untuk kunjungn ke gramed selanjutnya sepertinya aku mau beli buku Anak Sejuta Bintang karya Akmal Nasery Basral dan 99 Cahaya di Langit Eropa.

Pikirku mengatakan cukuplah dulu, apaagi tadi pagi aku baru membeli buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah. Terutama karena ada beberapa buku pinjaman yang “kurampok’ dari kamar si empunya, menunggu untuk dibaca satu per satu.

Tapi ternyata aku tak sanggup meahan godaan! Saat turun ke lantai dasar, ternyata buku yang di diskon-kan makin banyak dan makin menggila! Urung kulangkahkan kakiku untuk pulang. Menetap, hingaa kardus-kardus itu selesai dibongkar. Dan setengah menyesal.. karena uang yang aku keluarkan bertambah banyak.. x_x.

Entah kenapa aku tertarik Tesaurusplus terbitan Al Hikmah.. tanpa pikir panjang kutarik ke dekapanku.. berjalan sedikit, kutemukan buku Unlimited Potency of the Brain, kuambil juga.. ntar keburu habis, karena ada lho, pengunjung yang belanja sampai sekitar 30 cm tinggi tumpukannya…

Cukuplah.. cukup sudah,,

Namun ternyata air mataku hampir mengalir.. yah, paling tidak aku merasa ingin menangis, saat melihat kardus selanjutnya dibongkar. Novel Peter Pan. Novel yang sempat kucari namun kuurungkan karena kondisi keuangan, saat ini begitu menggoda. Memanggil-manggil minta dibeli.

Bimbang..

Ragu..

Dan masih ingin menangis..

Aku ga sanggup, dan kuambil juga!!

Yang aku sadari, aku harus berlari ke kasir dan meninggalkan Gramedia. Sebelum dikurasnya persediaan uang untukku melanjutkan kehidupan!

Cukup gila aku hari ini. Walau pun aku menyukai buku-buku yang aku beli, tetapi, tak dapat disangkal kalau aku harus mengencangkan ikat pinggang untuk hari-hari berikutnya. Meghitung setiap rupiah yang aku keluarkan. Yah, karena teman-teman setiap rupiah itu telah melayang ke kantong Gramedia.

 

You know something..

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia tertinggal dalam banyak hal dengan negara lain. Indonesia secara geografis memiliki posisi yang strategis, wilayah laut yang luas, kaya sumber daya alam, tapi apa? Berapa persen kah yang sudah terolah dengan optimal oleh sumber daya manusianya ini?

Satu point saja, saat ini indeks membaca Indonesia hanya 0,001, artinya 1.000 warga Indonesia hanya membaca satu buku. Sementara Amerika memiliki indeks membaca 0,45 dan Singapura memiliki indeks 0,55. Mengenaskan!

Dari 1000 warga negara Indonesia, kemana 999 orang yang lainnya?

Buku adalah media dakwah dan juga media utama untuk meningkatkan budaya baca. Dengan budaya baca yang tinggi tentunya akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam membangun, pemerintah membutuhkan SDM yang berkualitas yang seimbang lahir dan batin.

Kalau tidak membaca, darimana kita dapatkan ilmu untuk membangun negara ini? Sudahlah, akui saja mungkin menonton lebih menarik dibandingkan membaca, mungkin kita lupa, cerita di layar yang kita saksikan itu tersaji karena ada berlembar-lembar kertas naskah, dialog, cerita. Mereka membaca, paling tidak untuk membuat tontonan itu jadi, ada ilmunya.

Atau mungkin menghabiskan waktu berjam-jam memelototi layar komputer untuk membuka situs facebook, lebih menarik. Ah, yang ini tak dapat kau pungkiri, betapa menyenangkannya dunia maya. Namun sampai kapan?  Sampai kapan akan menjadi penonton terus? Sampai kapan akan menjadi penikmat terus?

Negri ini menunggu baktimu. Mungkin hingga saat ini kita masih sering berkata “Pemerintah ini.. pemerintah itu…”, tanpa sadar bahwa kita hanya diam disini. Khas seorang penikmat. Mungkin ini kah saatnya mengurangi durasi di depan facebook atau jejaring sosial lainnya, bukan! Bukan karena ia mendadak tak menarik lagi, namun karena ada hal lain yang harus dilakukan. Hal yang lebih penting lainnya. Perubahan itu harus dimulai dengan aksi, tidak hanya dengan kata-kata. Mulailah dengan membaca, membaca apa saja…

About Meuthia Handayani

complicated..

Posted on February 21, 2012, in My Colourfull Days and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Cimut, 99 Cahaya di Langit Eropa, mantap kan mut….=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: