Adab I’tikaf

Ramadhan taun ini dah mo abis fren, ngapain aja selama ini? Sudah maksimalkan kah?? Tapi sepertinya masih harus lebih dimaksimalakan lagi.. to the last breath…

I’tikaf pada 10 hari terakhir di bulann Ramadhan adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Untuk  mengisi hari-hari terakhir di bulan suci tersebut, beliau memilih beri’tikaf di masjid. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ’anha, “Nabi selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga ALLAH mewafatkan beliau…” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Agar I’tikaf yang dilakukan berbuah terampuninya dosa-dosa yang telah dilakukan, seorang muslim hendaknya menjaga dan memperhatikan adab-adabnya.

Berikut ini adalah adab i’tikafm, antara lain :

Pertama,  niat yang benar. I’tikaf dilakukan semata-mata untuk mengharapkan ridha ALLH Ta’ala dan menghidupkan sunnah Rasulullah.

Kedua,  dilaksanakan di masjid. Ini didasarkan pada firman ALLAH, “Dan janganlah kamu mencampuri mereka itu sedangkan kamu beri’tikaf di dalam masjid.” [AL-Baqoroh:187]

Ketiga, memutus atau menghentikan sementara waktu kegiatan yang berhubungan dengan keduniaan. Hal ini dilakukan agar selama i’tikaf bisa berkonsentrasi hanya untuk beribadah.

Keempat, tidak keluar dari masjid kecuali hanya untuk memenuhi hajat yang mesti dilaksanakan. Aisyah berkata, “Sunguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah menjulurkan kepala beliau kepadaku ketika sedang berada di masjid, lalu aku menyisir rambut beliau. Dan beliau tidaklah masuk ke rumah kecuali ketika ada keperluan (buang hajat), apabila beliau sedang beri’tikaf.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Orang yang sedang i’tikaf diperbolehkan mendirikan tenda (kemah) kecil pada bagian belakang masjid sebagai tempat beri’tikaf. Aisyah pernah membuat kemah yang terbuat dari bulu atau wool yang tersusun dari dua atau tiga tiang apabila beliau sedang beri’tikaf dan hal ini atas perintah Nabi. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Orang yang sedang beri’tikaf juga diperbolehkan meletakkan kasur atau ranjang di dalam tenda tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi jika sedang i’tikaf dihamparkan kasur untuk beliau dan diletakkan untuknya ranjang di belakang tiang At Taubah. (Riwayat Ibnu Majah)

Kelima, tetap menjaga amaliah ibadah pagi dan sore, seperti dzikir pagi dan sore, sholat Dhuha, sholat Rawatib, sholat Lail, sholat sunnah Wudhu, dzikir setelah sholat, dan juga menjawab adzan.

Keenam, sungguh-sungguh untuk dapat bangun sebelum waktu sholat dengan waktu yang cukup untuk persiapan., sehingga dapat melaksanakan sholat lima waktu dengan khusyu’ dan tenang.

Ketujuh, memperbanyak amalan sunnah dengan melakukan berbagai macam ibadah, seperti membaca al-Qur’an, membaca tasbih, tahlil, tahmid, istighfar, serta membaca sholawat kepada Rasulullah. Juga mentadabburi al-Qur’an, membaca terjemahannya, membaca Hadist-hadist Nabi, dan membaca Sirahnya.

Kedelapan, sedikit makan, minum, dan tidur, dengan tujuan untuk melembutkan hati, dan melatih kekhusyu’an hati, serta tidak membuang waktu sia-sia.

Kesembilan, selalu menjaga kebersihan dan kesucian diri dan tempat i’tikaf, dengan selalu menjaga wudhu. Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Okeh, buat yang mau i’tikaf, jangan ngasal deh…

semoga bermanfaat.

*taken from Suara Hidayatullah, edisi 4/XXIV/Agustus 2011/Ramadhan 1432

About Meuthia Handayani

complicated..

Posted on August 19, 2011, in Oase and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: