Hibernasi

Hibernasi. Yes. Rasanya cukup lama ga nulis di blog ini. Beberapa kali membuka dan mencoba untuk membuat postingan baru. Hasilnya hanya sebatas judul saja atau malah tanpa judul dan tanpa isi. Kosong.

Jadi saat ini teteap saja

K

O

S

O

N

G

See you next time

 

#Crazyday

Just another #crazyday

Zaki's

Model: Zakia

 

Belum di input. Belum di ambil. Belum di cek. Ga ada yang anter. Ada di logistik. Ditelfon Billing. Belum konfirmasi dokter. Belum acc JKN. Returan belum di cek. Nomor ga bisa dihubungi. Operator sibuk. Ada yang complain. Kronologis. Ga ada yang terima retur. Tulisannya ga kebaca. Barangnya selisih. Pneumatik habis. Salah input. Open medrec.

And many more…

on Twivotiare

Iya. Ini novelnya Ika Natasha.

Awalnya ga pengen beli novel ini. Awalnya ga tau kalo ini novel. Awalnya ngirain kalau ini sebatas kumpulan twit dari author -walau pun kenyataannya iya- about her daily routine. Kan males banget ngebelinya. Tapi berhubung aku punya semua ‘anak’ Ika Natasha, dan tau kalo ini fiksi yang dikemas dalam bentuk novel, akhirya dikukuhkanlah hati dan dompet ini untuk membelinya. November 2016, tapi baru dibaca sekarang, setelah tahun berganti. Waiting list bray.

Awalnya ya kaya gebaca twit dibukuin beneran. Dalam artian kadang beneran keganggu. Apalagi kalau bagian Lexy -It’s more catchy to call her Lexy than Alex- ngebalas mention dalam bentuk quote, ya kan kalau mau ngebaca bener kan harus baca kalimat kedua dulu baru kalimat pertama. Kalau males sih ya baca dari depan aja,biar cepet abis bukunya. Tebel cuy. Read the rest of this entry

Kost (yang tidak lagi) Baru

Sudah lama. Sudah lama ga buka blog ini. Sibuk? Not really. Bingung mau nulis apa. Daripada isinya geje semua. Mungkin yang ini pun bentuk lain dari pikiranku yang random.

Oh ya, aku pindah kost. Meninggalkan sebentuk “kemewahan” yang ada di simpang Dago dan sekitarnya. Kemewahan yang membahagiakanku 🙂 Kemewahan itu berbentuk makanan. Kalau pulang kerja -iya, masih kerja, kuliahnya belum jadi- rasanya bahagiaaa banget lihat makanan berderat sepanjang jalan. Sebatas melihat. Walaupun mereka berlomba teriak teriak “pick me up”, ga mungkin kubawa pulang semua. Segembul-gembulnya aku, perut ini punya batasnya juga.

Wilayah kostku yang baru jauh dari tempat makan. Ga ada makanan berderet. Sedih si lihatnya. Lelah euy. Lelah kalau terus kost di seputaran Dago. Capek di jalan. Kalau macet itu kadang pulang hampir 2 jam di jalan. Lelah kan. Read the rest of this entry

The Architecture of Love in Review

Kerjaan aku mbaca novel aja? Ya ga juga sih. Tapi daripada mbaca buku rada berat yang tebel tebel sangat itu mending aku mbaca novel di daftar waiting list aku. Novel yang udah terlanjur dibeli tapi ditumpukin aja. Bahkan masih lengkap dengan segel plastiknya.

Sangat disayangkan aku gagal ikut PO. Alarm sudah hidup. Email sudah dibikin tinggal kirim send. Website udah dibuka. Entah kenapa aku lupa. Siang itu aku lupa. Trus bingung kenapa aku sampai lupa. Akhirnya ketika buku ini pertama release di Bandung, aku menuju Toga Mas sekedar biar dapet cetakan pertama aja. Kemudian masuk antrian waiting list.

Ini novel Ika Natasha kesekian yang aku baca. Lupakan tentang twitter poll story dan sejenisnya, untuk novel aku memilih menikmati hasil. Dibandngkan dengan novel Ika Natasha lain, aku masih menjuarakan Antologi Rasa. Raia-River belum menggeser si Harris Risjad. Read the rest of this entry