Code Blue 3rd Season needs Team Dragon

Saatnya membahagiakan diri sendiri.

Yay! Code Blue is back! Kirain Berhenti di Season2 🙂 Masih ongoing, jadi nontonnya sepotong-sepotong. Rela, sungguh. Baru 3 episode hingga hari ini.

Aizawa balik lagi ke lifesaving! Masih kejam. Masih ga pernah senyum. Masih poker face.  Itu rambutnya tolong, entah kenapa malah jadi rapi, dan aku lebih suka rambut aizawa yang rada messy kayak dulu 🙂

Aizawa in Code Blue 3rd Season Continue reading

Advertisements

The Next AFI

Oemji.. selain AFI muncul satu lagi orang yang entah siapa namanya sok cinta Indonesia sekali. Oh ya, AFI 2017 ini berakhir cukup tragis, jadi pembicara; masuk TV; jadi tokoh nasional -sesaat-, bahkan seorang -yang seharusnya penting- presiden meluangkan waktunya untuk mengajaknya bertamu ke istana negara itu tidak lebih dari seorang remaja labil yang memang sedang mencari mau kemanakah dirinya. Nemu yang bagus -menurut penalarannya- lantas ditiru, begitu seterusnya, yang bahkan untuk menunjukkan kekecewaannya itu pun harus meniru orang lain.

Tokoh yang saya lupa namanya ini sesungguhnya saya tidak melakukan background check. Tapi di salah satu akun teman facebook ada yang memuat status yang dia tuliskan. Mau ga mau terlihatlah itu tanda checklist disana. Wow. Ini orang siapa sih? munculnya dari mana? kuliah dimana? Gelarnya apa? Prestasinya apa? Dapet penghargaan apa?

Saya rasa dia bukan seorang yang malang melintang sebagai pelaku di dunia politik, ketahanan nasional, dan sejenisnya, sehingga “ocehan”nya menjadi diviralkan sedemikian rupa.

Who is she anyway?!

 

AFI Syndrome

Akademi Fantasi Indosiar? Nope. Udah lama tamat. Ini tentang seorang anak SMA yang nulis tentang “Warisan” atau mungkin kalau menurut saya lebih tepat dia kasih kidul “Agama Warisan”. One of the biggest topic this month.

Afi, yang menurut saya labil (memang tidak semua, tapi memang pada usia tersebut sedang merintis kelabilan pencarian jati diri kan?!) menulis pemikirannya yang cukup tendensius, yang terus terang saja merusak timeline akun sosmed saya. Isinya? Continue reading

Hibernasi

Hibernasi. Yes. Rasanya cukup lama ga nulis di blog ini. Beberapa kali membuka dan mencoba untuk membuat postingan baru. Hasilnya hanya sebatas judul saja atau malah tanpa judul dan tanpa isi. Kosong.

Jadi saat ini teteap saja

K

O

S

O

N

G

See you next time

 

#Crazyday

Just another #crazyday

Zaki's

Model: Zakia

 

Belum di input. Belum di ambil. Belum di cek. Ga ada yang anter. Ada di logistik. Ditelfon Billing. Belum konfirmasi dokter. Belum acc JKN. Returan belum di cek. Nomor ga bisa dihubungi. Operator sibuk. Ada yang complain. Kronologis. Ga ada yang terima retur. Tulisannya ga kebaca. Barangnya selisih. Pneumatik habis. Salah input. Open medrec.

And many more…

on Twivotiare

Iya. Ini novelnya Ika Natasha.

Awalnya ga pengen beli novel ini. Awalnya ga tau kalo ini novel. Awalnya ngirain kalau ini sebatas kumpulan twit dari author -walau pun kenyataannya iya- about her daily routine. Kan males banget ngebelinya. Tapi berhubung aku punya semua ‘anak’ Ika Natasha, dan tau kalo ini fiksi yang dikemas dalam bentuk novel, akhirya dikukuhkanlah hati dan dompet ini untuk membelinya. November 2016, tapi baru dibaca sekarang, setelah tahun berganti. Waiting list bray.

Awalnya ya kaya gebaca twit dibukuin beneran. Dalam artian kadang beneran keganggu. Apalagi kalau bagian Lexy -It’s more catchy to call her Lexy than Alex- ngebalas mention dalam bentuk quote, ya kan kalau mau ngebaca bener kan harus baca kalimat kedua dulu baru kalimat pertama. Kalau males sih ya baca dari depan aja,biar cepet abis bukunya. Tebel cuy. Continue reading

Kost (yang tidak lagi) Baru

Sudah lama. Sudah lama ga buka blog ini. Sibuk? Not really. Bingung mau nulis apa. Daripada isinya geje semua. Mungkin yang ini pun bentuk lain dari pikiranku yang random.

Oh ya, aku pindah kost. Meninggalkan sebentuk “kemewahan” yang ada di simpang Dago dan sekitarnya. Kemewahan yang membahagiakanku 🙂 Kemewahan itu berbentuk makanan. Kalau pulang kerja -iya, masih kerja, kuliahnya belum jadi- rasanya bahagiaaa banget lihat makanan berderat sepanjang jalan. Sebatas melihat. Walaupun mereka berlomba teriak teriak “pick me up”, ga mungkin kubawa pulang semua. Segembul-gembulnya aku, perut ini punya batasnya juga.

Wilayah kostku yang baru jauh dari tempat makan. Ga ada makanan berderet. Sedih si lihatnya. Lelah euy. Lelah kalau terus kost di seputaran Dago. Capek di jalan. Kalau macet itu kadang pulang hampir 2 jam di jalan. Lelah kan. Continue reading